Bhayangkara FC Diusulkan Jadi “Wong Lampung”

Desakan Akuisisi dan Ganti Nama Menguat, Suporter Minta Klub Berbasis di Lampung

BANDAR LAMPUNG — Wacana menjadikan klub sepak bola yang bermarkas di Lampung sebagai klub yang benar-benar dimiliki dan merepresentasikan masyarakat Lampung kembali mengemuka. Sejumlah tokoh dan pemerhati sepak bola daerah mendorong agar klub yang berkompetisi di level nasional tidak sekadar menjadikan Lampung sebagai home base, tetapi memiliki identitas dan kepemilikan yang kuat sebagai klub daerah.

Wacana tersebut mencuat dalam percakapan sejumlah pemerhati sepak bola Lampung pada Rabu (20/8). Salah satu pembahasan mengarah pada kemungkinan akuisisi klub lain, termasuk opsi membeli klub yang kemudian ditempatkan dan dibangun dengan identitas Lampung.

Dalam percakapan itu, muncul pula usulan perubahan identitas Bhayangkara FC apabila klub tersebut benar-benar berpindah kepemilikan dan menjadi bagian dari ekosistem sepak bola Lampung.

“Beli di Lampung kan jadi orang Lampung, bukan cuma home base bae di Lampung. Kalau punya Lampung, tunjukkan dong, misal ganti nama,” ujar salah satu peserta diskusi.

Nama “Presisi Lampung FC” bahkan sempat mencuat sebagai salah satu gagasan nama baru apabila terjadi perubahan identitas klub.

Bukan Sekadar Home Base

Dorongan agar klub memiliki ikatan emosional dengan masyarakat Lampung disampaikan Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung, Ma’ruf Abidin. Menurutnya, apa pun klub yang nantinya hadir di Lampung, persoalan paling penting adalah bagaimana masyarakat merasa memiliki klub tersebut.

“Yang paling pokok, apa pun klubnya, bagaimana masyarakat Lampung bisa merasa memiliki sehingga euforia dan antusiasme masyarakat bisa seperti saat kita punya PSBL, Jaka Utama dan lainnya.”

Ia menilai rasa memiliki menjadi fondasi penting untuk membangun basis suporter loyal. Pengalaman klub-klub besar di Indonesia, menurutnya, menunjukkan bahwa kekuatan suporter tidak hanya lahir dari prestasi, tetapi juga dari ikatan identitas dan sejarah.

“Sehingga kita bisa punya supporter loyal seperti Jackmania, Bobotoh, Pasoepati, Bonek, Aremania dan lainnya,” katanya.

Negosiasi Harus Total

Dalam percakapan tersebut, Junaedi disebut tengah mempertimbangkan sejumlah opsi klub yang berpotensi diakuisisi. Beberapa nama yang muncul antara lain klub yang pernah berkompetisi di Liga 2 maupun Liga 3, termasuk PSPS Pekanbaru, Persiba Balikpapan, Persipati Pati dan Batavia FC.

Namun, pembicaraan tersebut masih sebatas wacana dan penjajakan. Belum terdapat kepastian klub mana yang akan diambil maupun apakah proses akuisisi benar-benar akan dilakukan.

“Bos masih mikir-mikir, suruh ambil Batavia FC. Beliau ada PSPS Pekanbaru, Persiba Balikpapan, Liga 2, Liga 3, Persipati Pati, Batavia FC. Ya bang, nanti saya pikir-pikir dulu. Masih mikir-mikir dulu.” demikian percakapan yang beredar.

Ma’ruf kemudian mendorong agar peluang tersebut benar-benar dinegosiasikan secara maksimal.

“PR ini Om Ketua untuk nego habis-habisan,” ujarnya.

Belajar dari Kasus Adhyaksa FC

Diskusi juga menyinggung perubahan identitas klub di daerah lain sebagai pembanding. Salah satu peserta mencontohkan perubahan nama Adhyaksa FC menjadi Isen Mulang FC setelah klub tersebut dikaitkan dengan kepindahan basis ke Kalimantan Tengah.

Bagi para pemerhati sepak bola Lampung, perubahan identitas tersebut menjadi contoh bahwa sebuah klub dapat membangun nama baru yang lebih melekat dengan daerah tempat klub bermarkas.

“Artinya benar-benar ganti nama demi untuk daerah yang ditempati,” kata salah satu peserta diskusi.

Namun, muncul pula klarifikasi bahwa perpindahan tersebut berkaitan dengan proses bisnis dan transaksi kepemilikan klub. Karena itu, perubahan identitas klub tidak sesederhana pergantian nama, tetapi menyangkut struktur kepemilikan, hak komersial, lisensi kompetisi, hingga basis operasional.

Mimpi Mengulang Kejayaan PSBL

Di balik wacana akuisisi, terselip mimpi menghidupkan kembali atmosfer sepak bola Lampung yang pernah kuat. Nama PSBL dan Jaka Utama disebut sebagai bagian dari sejarah yang membuat masyarakat memiliki keterikatan dengan klub lokal.

Persoalan terbesar bukan semata-mata menghadirkan klub profesional di Lampung, tetapi menciptakan klub yang benar-benar dianggap sebagai milik masyarakat.

Dengan identitas yang jelas, kepemilikan yang transparan, prestasi yang kompetitif, serta ruang yang luas bagi suporter, klub tersebut diharapkan mampu membangun basis pendukung yang loyal.

“Bukan cuma home base di Lampung, tetapi bagaimana klub itu menjadi wong Lampung,” menjadi semangat yang mengemuka dalam diskusi tersebut.

Jika wacana akuisisi benar-benar terealisasi, tantangan berikutnya adalah memastikan klub tidak hanya menjadi kendaraan bisnis sepak bola, melainkan juga simbol kebanggaan daerah.

Catatan: Seluruh opsi akuisisi, perubahan nama, dan kepemilikan yang disebut dalam percakapan tersebut masih berupa wacana atau pembahasan awal dan belum menunjukkan adanya keputusan resmi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *