Gus Gudfan, Santri yang Paham Ekonomi Kerakyatan, Dinilai Layak Pimpin PBNU

BANDAR LAMPUNG — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 mulai menghangat. Salah satu nama yang dinilai layak dipertimbangkan adalah H. Gudfan Arif Ghofur atau Gus Gudfan, figur yang dinilai memiliki perpaduan kuat antara tradisi pesantren, pengalaman organisasi, dan dunia usaha.

Pandangan tersebut disampaikan aktivis alumni GMNI Lampung sekaligus tokoh muda Lampung, Roma, Jumat (21/8/2026). Ia menilai Gus Gudfan memiliki kapasitas yang relevan dengan tantangan NU ke depan, terutama dalam membangun kemandirian ekonomi umat.

“Saya melihat Gus Gudfan bukan hanya sebagai sosok yang lahir dari lingkungan pesantren, tetapi juga sebagai figur yang memahami realitas ekonomi. Pengalaman beliau di dunia usaha dan organisasi menjadi modal penting untuk mendorong NU semakin mandiri dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Roma.

Gus Gudfan merupakan putra KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Ia menempuh pendidikan pesantren di Denanyar, Jombang, sebelum menyelesaikan pendidikan di FISIP Universitas Darul Ulum Jombang.

Sejak 2003, Gus Gudfan telah menekuni dunia usaha dan memiliki pengalaman di berbagai sektor, mulai dari sektor riil, migas, petrokimia, teknologi informasi dan telekomunikasi hingga pertambangan batu bara.

Pengalaman bisnis tersebut berjalan beriringan dengan kiprahnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia pernah dipercaya sebagai bendahara PP Pagar Nusa, RMI PWNU Jawa Timur, hingga menjadi Plt. Bendahara Umum PBNU pada 2022.

Pengalaman tersebut membentuk pandangan Gus Gudfan bahwa kemandirian ekonomi umat tidak cukup hanya dengan pertumbuhan usaha. Menurut perspektif yang melekat pada kiprahnya, akses ekonomi harus dibuka seluas-luasnya agar pesantren, UMKM, dan masyarakat lapisan bawah dapat memperoleh manfaat.

“NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara kultural, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangun kemandirian ekonomi umat. Dalam pandangan saya, Gus Gudfan memiliki perpaduan pengalaman tersebut,” kata Roma.

Pengalaman di sektor usaha juga membuat Gus Gudfan dipercaya PBNU menjadi penanggung jawab pengelolaan bidang pertambangan organisasi pada 2024. Pengalaman itu dinilai menjadi modal untuk mendorong pengelolaan aset dan peluang ekonomi secara profesional, sekaligus diarahkan bagi kemanfaatan sosial.

Regenerasi Kepemimpinan

Roma menilai tantangan NU ke depan tidak hanya menyangkut persoalan internal organisasi, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang semakin cepat. Karena itu, NU membutuhkan figur yang mampu menjaga akar tradisi pesantren sekaligus memiliki kemampuan membaca perkembangan zaman.

Ia menegaskan, dukungan terhadap Gus Gudfan merupakan pandangan pribadi sebagai bagian dari generasi muda Lampung yang menginginkan proses regenerasi kepemimpinan organisasi berlangsung terbuka dan konstruktif.

“Saya melihat Gus Gudfan layak diberi ruang untuk maju dan menawarkan gagasan terbaiknya kepada warga NU. Pada akhirnya, keputusan tetap berada dalam mekanisme Muktamar dan menjadi hak para pemilik suara di dalam organisasi,” tegasnya.

Nama Gus Gudfan sendiri kini menjadi salah satu figur yang diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35. Peta dukungan dinilai masih dinamis sehingga belum ada kandidat yang dapat dipastikan unggul.

Bagi Roma, kata kuncinya bukan semata-mata siapa yang menduduki kursi Ketua Umum PBNU, melainkan siapa yang mampu membawa NU tetap kokoh dengan tradisi pesantren sekaligus adaptif menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan perubahan zaman.

KOALISI GMNI LAMPUNG RAYA menilai kombinasi pengalaman pesantren, organisasi, dan dunia usaha yang dimiliki Gus Gudfan menjadi salah satu modal penting yang patut dipertimbangkan dalam kontestasi kepemimpinan NU ke depan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *