SALAH JURUSAN, SALAH KARIER?

Rektor UBL: Generasi Muda Harus Kenali Potensi Diri Sebelum Menentukan Masa Depan

Bandarlampung – Fenomena mahasiswa salah memilih program studi hingga berujung pada karier yang tidak sesuai semakin banyak terjadi di tengah perubahan dunia kerja yang bergerak sangat cepat. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi industri global membuat pilihan jurusan kuliah tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kesuksesan seseorang di masa depan.

Rektor M. Yusuf S. Barusman menegaskan, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan sekadar menentukan kampus atau program studi, melainkan memahami potensi diri, minat, bakat, serta arah masa depan yang ingin dibangun.

“Banyak lulusan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dengan jurusan kuliahnya. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang kehilangan arah di tengah perkuliahan karena belum memahami siapa dirinya dan tujuan karier yang ingin dicapai,” kata Yusuf, Jumat (5/6).

Menurut Guru Besar Ilmu Manajemen tersebut, paradigma pendidikan harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Jika dahulu seseorang dapat memilih satu profesi dan menjalani karier yang relatif stabil hingga pensiun, kondisi saat ini jauh berbeda. Berbagai profesi baru terus bermunculan, sementara sejumlah pekerjaan yang ada saat ini diperkirakan akan berubah bahkan hilang dalam beberapa tahun mendatang.

“Generasi muda perlu memahami dirinya terlebih dahulu sebelum menentukan langkah pengembangan karier. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau berasal dari perguruan tinggi ternama, tetapi juga kemampuan mengenali potensi diri, beradaptasi dengan perubahan, dan mengembangkan kompetensi yang relevan,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang tua kini juga menghadapi tantangan baru dalam memilih perguruan tinggi bagi anak-anaknya. Selain mempertimbangkan kualitas akademik, mereka mulai menaruh perhatian pada kemampuan kampus dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

“Orang tua tentu berharap anak-anaknya tidak hanya memperoleh gelar sarjana, tetapi juga memiliki arah masa depan yang jelas, keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, dan kemampuan berkembang di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat,” katanya.

Yusuf menilai, di era kecerdasan buatan dan digitalisasi yang semakin masif, pertanyaan paling penting bagi generasi muda bukan lagi “jurusan apa yang harus dipilih”, melainkan “potensi apa yang dimiliki dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun”.

“Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi fondasi utama kesuksesan mereka di masa depan,” tegasnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *