Dari Kuda Tuli ke Demokrasi, Banteng Lamsel Ajak Gen Z Jaga Reformasi

Lampung Selatan – Menjelang peringatan 27 Juli 1996, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lampung Selatan menggelar diskusi publik bertajuk “Dari Kuda Tuli ke Demokrasi, Mengapa Gen Z Harus Peduli?” di Kopi Toegoe, Kecamatan Tanjung Bintang, Rabu (15/7). Kegiatan ini menjadi ruang edukasi politik bagi generasi muda untuk memahami sejarah perjuangan demokrasi sekaligus mendorong keterlibatan aktif mereka dalam kehidupan berbangsa.

Sekitar 50 peserta dari kalangan Generasi Z asal Kecamatan Tanjung Bintang dan Tanjung Sari mengikuti diskusi yang menghadirkan akademisi FISIP Unila Azis Amriwan, selebgram sekaligus pemerhati politik Ummu Hani, serta politikus senior PDI Perjuangan Lampung Sujiyatmoko. Acara dibuka Ketua DPC PDI Perjuangan Lampung Selatan, Lesty Putri Utami.

Dalam sambutannya, Lesty menegaskan Peristiwa Berdarah 27 Juli 1996 atau Kudatuli merupakan salah satu tonggak lahirnya gerakan reformasi yang tidak boleh dilupakan generasi muda. Menurutnya, memahami sejarah menjadi bekal penting agar demokrasi tidak kembali mengalami kemunduran.

“Reformasi dan demokrasi diperjuangkan dengan darah dan air mata. Jangan sampai demokrasi kembali terbelenggu seperti masa lalu. Generasi muda harus ikut mengawal agar demokrasi tetap berkeadilan dan mencerdaskan,” tegasnya.

Azis Amriwan dalam paparannya menilai demokrasi saat ini menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika kebijakan politik belum sepenuhnya berpihak pada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat. Ia mengajak Gen Z tidak hanya menjadi penonton, tetapi berani menyuarakan aspirasi secara kritis dan bertanggung jawab.

“Politik harus menjadi alat mencerdaskan masyarakat dan bermuara pada kesejahteraan rakyat serta kemajuan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Sujiyatmoko menekankan pentingnya literasi sejarah di kalangan generasi muda. Ia mengingatkan masih banyak anak muda yang belum memahami berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia pada masa Orde Baru, termasuk kronologi Peristiwa 27 Juli 1996.

Di sisi lain, Ummu Hani mengajak Gen Z memanfaatkan media sosial sebagai ruang menyampaikan kritik secara cerdas. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh hoaks dan selalu mendasarkan kritik pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang hidup. Selain memperkuat pemahaman sejarah demokrasi, kegiatan ini juga menjadi momentum mendorong keterlibatan generasi muda dalam proses politik dan regenerasi kepemimpinan di masa depan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *