MBG Libur, Pasar Telur dan Ayam Bergejolak

Pengusaha Ingatkan Efek Berantai ke Peternak, Investor, hingga Pertumbuhan Ekonomi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat berhenti sementara memicu gejolak di sektor peternakan. Pasokan telur dan ayam yang sebelumnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan program tersebut membanjiri pasar sehingga harga di tingkat peternak tertekan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pelaku usaha terhadap keberlanjutan investasi dan stabilitas rantai pasok pangan.

Dalam diskusi para pelaku usaha, disebutkan penghentian mendadak aktivitas MBG membuat peternak tidak memiliki waktu untuk menyesuaikan produksi. Akibatnya, stok telur dan ayam menumpuk di pasar, sementara permintaan turun drastis.

Pengusaha yang juga Ekonom Lampung, Andi Desfiandi Alfian, menilai pasar pada akhirnya akan mencari titik keseimbangan baru antara pasokan dan permintaan. Namun, ia mengingatkan bahwa pengurangan anggaran MBG diperkirakan akan berdampak lebih luas terhadap perekonomian.

“Pengurangan anggaran hingga sekitar 35–40 persen akan memengaruhi supply dan demand, daya beli masyarakat, lapangan kerja, serta kesinambungan investasi mitra. Secara keseluruhan, ini berpotensi menambah kontraksi ekonomi pada kuartal II dan III,” ujar Andi, Rabu (8/7).

Ia juga menilai pemerintah perlu mengevaluasi berbagai program ekonomi secara menyeluruh agar tidak membebani keuangan negara maupun pelaku usaha. Menurutnya, penguatan lembaga ekonomi desa yang sudah ada akan lebih efektif dibanding membentuk kelembagaan baru dengan biaya besar.

Sementara itu, pelaku usaha kuliner yang juga CEO Rumah Makan Minang Indah Grup, Junaedi, berharap pemerintah memberikan kepastian kebijakan kepada peternak agar mereka dapat mengatur produksi dengan lebih baik. Menurutnya, pemberitahuan yang lebih awal akan membantu peternak mengurangi risiko kerugian akibat perubahan kebijakan secara mendadak.

Di tengah tekanan harga, pemerintah mulai menetapkan harga acuan ayam dan telur sebagai upaya menjaga stabilitas pasar dan melindungi peternak. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meredam kerugian yang dialami peternak sambil menunggu normalisasi permintaan dari program MBG.

Pelaku usaha berharap kebijakan pangan ke depan disusun lebih terukur, konsisten, dan memberikan kepastian bagi seluruh mata rantai produksi, sehingga investasi di sektor pangan tetap terjaga dan kesejahteraan peternak tidak kembali terganggu. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *