Olah Limbah Sawit Jadi Energi, Target 60 Methane Capture pada 2030
JAKARTA — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat mengapresiasi langkah PTPN IV PalmCo mempercepat dekarbonisasi melalui pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi baru terbarukan (EBT).
Apresiasi itu disampaikan Jumhur saat mengunjungi PTPN IV Regional III di Pekanbaru, Riau, Jumat (21/8). Menurutnya, transformasi limbah sawit menjadi energi menunjukkan besarnya potensi industri perkebunan BUMN dalam menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
«“Saya harus endorse kebaikan-kebaikan yang dilakukan PTPN IV PalmCo. Dunia saat ini sangat menghargai mereka yang mau menghilangkan emisi gas rumah kaca, seperti yang dilakukan PalmCo,” kata Jumhur.»
Saat ini, PTPN IV PalmCo telah mengoperasikan 12 fasilitas methane capture dan EBT di berbagai wilayah kerja. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, co-firing, hingga dikembangkan menjadi compressed biomethane gas (CBG).
PalmCo juga tercatat sebagai perusahaan perkebunan pertama di Indonesia yang aktif dalam perdagangan karbon melalui pasar Bursa Karbon Indonesia, IDXCarbon.
Jumhur mendorong PalmCo memperluas pemanfaatan EBT dan perdagangan karbon agar kontribusi sektor perkebunan terhadap agenda transisi energi dan penurunan emisi nasional semakin besar.
“PTPN juga bisa memperluas pemanfaatan carbon trading dengan bekerja sama dengan investor. Manfaat besar akan diterima PTPN, termasuk carbon offset-nya juga bisa didapat. Kita siap memfasilitasi,” ujarnya.
Menurut Jumhur, pengembangan perdagangan karbon tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar global. Tren perdagangan internasional, kata dia, semakin memberikan penghargaan terhadap produk dengan jejak lingkungan yang lebih baik, termasuk minyak sawit berkelanjutan atau sustainable CPO.
Target 60 Instalasi
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa mengatakan pengembangan EBT dan perdagangan karbon merupakan bagian dari strategi perusahaan membangun bisnis perkebunan yang berkelanjutan.
“Kami melihat limbah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dikelola, tetapi juga sebagai sumber daya yang bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan lingkungan,” ujar Jatmiko.
PalmCo terus mengembangkan pemanfaatan limbah sawit melalui pengoperasian PLTBG, PTBG co-firing, pemanfaatan CBG, serta perdagangan karbon. Langkah tersebut ditujukan untuk menekan emisi operasional sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.
Hingga 2030, PalmCo menargetkan pengoperasian 60 instalasi methane capture. Infrastruktur tersebut diproyeksikan mampu menekan emisi perusahaan hingga 71 persen dibandingkan kondisi business as usual.
Target itu bahkan berada jauh di atas sasaran pemerintah sebesar 30 persen pada periode yang sama.
Jatmiko menegaskan, pemanfaatan methane capture dan EBT tidak hanya menghasilkan dampak lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi melalui efisiensi energi maupun penjualan produk turunannya.
“Ini wujud circular economy yang nyata. Mengolah limbah menjadi anugerah dan berkontribusi terhadap kemandirian energi negeri,” tutup Jatmiko. (*).












