Lampung Surplus Daging 3.955 Ton, Pemprov Tegaskan Pasokan Aman Sepanjang 2025

Bandarlampung — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menegaskan bahwa ketersediaan daging sapi dan kerbau di Lampung sepanjang Tahun 2025 berada dalam kondisi aman, stabil, dan mencukupi, bahkan mencatat surplus 3.955 ton. Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan perbedaan data yang sempat beredar di ruang publik terkait neraca supply–demand komoditas peternakan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Ir. Lili Mawarti, M.Si, menegaskan bahwa perhitungan pemerintah daerah dilakukan secara komprehensif dan tidak hanya bertumpu pada angka produksi dalam daerah.

“Neraca supply–demand daging sapi dan kerbau Tahun 2025 menunjukkan surplus 3.955 ton. Perhitungan ini tidak hanya melihat produksi, tetapi juga memasukkan stok awal serta arus masuk dan keluar ternak maupun daging antarprovinsi,” ujar Lili Mawarti.

Ia menjelaskan, perbedaan data yang muncul disebabkan oleh perbedaan metodologi penghitungan. Dalam publikasi Peternakan dalam Angka 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat supply daging sapi Lampung sebesar 18.523 ton yang hanya bersumber dari produksi dalam provinsi, tanpa memperhitungkan stok awal serta lalu lintas ternak dan daging.

Secara faktual, data Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS) mencatat sepanjang Tahun 2025 Provinsi Lampung menerima pemasukan 162.911 ekor sapi dan kerbau, termasuk 159.117 ekor sapi impor, serta mengeluarkan 298.642 ekor ternak ke luar daerah.

“Data ini menegaskan posisi Lampung sebagai sentra ternak dan daerah penyangga pasokan nasional. Jadi wajar jika arus keluar ternak cukup besar, namun pasokan di dalam daerah tetap terjaga,” kata Lili.

Stabilitas pasokan tersebut tercermin dari pergerakan harga di pasar. Berdasarkan Berita Resmi Statistik Tahun 2025, komoditas daging sapi tidak memberikan andil terhadap inflasi tahunan (year-on-year), bahkan mencatat deflasi 0,01 persen pada April dan Desember. Fakta ini menunjukkan pasokan tetap aman, termasuk pada periode rawan seperti Ramadhan dan Idul Fitri.

Selain itu, populasi ternak di Provinsi Lampung juga mengalami peningkatan signifikan. Populasi sapi potong tercatat 905.322 ekor, kambing 1.974.609 ekor, ayam ras pedaging 94.814.874 ekor, dan ayam ras petelur 14.850.524 ekor. Capaian ini memperkuat posisi Lampung sebagai provinsi dengan populasi sapi tertinggi di Pulau Sumatera.

Di tengah keterbatasan anggaran, Pemprov Lampung tetap memprioritaskan program yang berdampak langsung bagi peternak rakyat. Sepanjang 2025, pemerintah menyalurkan 640 ekor kambing Rambon, 2.000 ekor ayam petelur, dan 2.200 ekor itik lokal kepada kelompok tani di berbagai kabupaten, lengkap dengan dukungan pakan konsentrat. Sebanyak 32 unit mesin tetas telur juga disalurkan untuk memperkuat produksi skala rakyat.

Melalui dukungan Kementerian Pertanian RI, Lampung turut menerima 37.200 ekor Ayam Merah Putih untuk 62 kelompok tani, lengkap dengan pakan, kandang, obat-obatan, dan vitamin.

Pemprov Lampung menegaskan seluruh program peternakan Tahun Anggaran 2025 dilaksanakan secara efisien dan akuntabel, tanpa rapat di hotel mewah maupun studi banding. Konsolidasi dilakukan di lingkungan dinas dan secara daring, dengan perjalanan dinas yang sangat terbatas.

Meski demikian, kinerja sektor peternakan tetap mencatat hasil positif. Sepanjang 2025, Lampung meraih peringkat kedua nasional capaian vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dengan realisasi 99,8 persen, sekaligus memperoleh penghargaan dari Kementerian Pertanian RI atas kecepatan realisasi anggaran vaksinasi.

Ke depan, Pemprov Lampung berkomitmen menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pakan melalui pemutakhiran data peternak penerima Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dalam Program SPHP Jagung. Pada Tahun 2026, pemerintah juga memperkuat penyediaan pakan ternak unggul melalui inovasi rumput Pakchong varietas Tansa yang telah ditetapkan secara nasional.

“Sektor peternakan bukan sekadar angka, tetapi menyangkut stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kebijakan ke depan diarahkan untuk memperkuat sektor hulu agar peternak rakyat tidak tertekan fluktuasi pasar,” tegas Lili Mawarti.

Dengan pertumbuhan produksi ternak sebesar 5,85 persen dan peningkatan produksi olahan peternakan 3 persen sepanjang 2025, Pemprov Lampung optimistis sektor peternakan akan terus menjadi penopang ekonomi daerah sekaligus pilar ketahanan pangan nasional. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *