Pasar Induk Natar Diproyeksikan Dongkrak Ekonomi Lokal
BANDAR LAMPUNG – Rencana Pemerintah Provinsi Lampung membangun Pasar Induk Natar menuai respons positif dari para pakar ekonomi. Dr. Khairudin, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bandar Lampung (UBL), menilai proyek ini berpotensi menjadi katalis penguatan perekonomian lokal dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pasar induk ini bisa memperpendek jalur distribusi hasil pertanian dan produk UMKM, sehingga menurunkan biaya logistik, meningkatkan akses pasar, dan memperkuat posisi tawar produsen lokal terhadap pedagang besar,” kata Dr. Khairudin.
Ia menambahkan, keberadaan pasar skala regional dapat menciptakan efek pengganda melalui pertumbuhan aktivitas perdagangan, transportasi, penyimpanan, hingga pengolahan hasil pertanian, yang pada akhirnya membuka peluang usaha baru bagi UMKM.
Menurut Dr. Khairudin, proyek ini juga mendorong efisiensi distribusi barang di Lampung. “Dengan pusat perdagangan yang terstruktur, aliran komoditas dari produsen ke pasar menjadi lebih cepat, biaya transportasi lebih rendah, dan koordinasi dalam rantai pasok lebih efektif. Sistem perdagangan yang terpusat juga meningkatkan transparansi harga, sehingga stabilitas harga bisa lebih terjaga,” jelasnya.
Meski begitu, ia menekankan dampak terhadap pasar tradisional harus diperhatikan. Pasar induk dapat memicu kompetisi lebih ketat bagi pasar lokal yang sebelumnya menjadi pusat distribusi utama. Namun, jika terintegrasi dengan baik, pasar induk justru dapat memperkuat peran pasar tradisional sebagai titik distribusi ritel, menciptakan struktur pasar yang lebih efisien dan saling melengkapi.
Dari sisi ekonomi, Dr. Khairudin menilai investasi pembangunan pasar ini ekonomis jika manfaat jangka panjang melebihi biaya pembangunan dan operasional. “Efisiensi distribusi, peningkatan aktivitas perdagangan, penciptaan nilai tambah, dan efek pengganda pada jasa pendukung bisa meningkatkan pendapatan pelaku usaha serta penerimaan daerah. Namun, keberhasilan investasi sangat bergantung pada manajemen profesional, integrasi distribusi, dan partisipasi pedagang,” ujar Dr. Khairudin.
Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, ia menyarankan pengelolaan pasar diarahkan sebagai pusat integrasi rantai pasok komoditas daerah, dengan fasilitas logistik memadai seperti pergudangan dan cold storage, serta integrasi UMKM dan petani lokal melalui kemitraan, akses pembiayaan, dan digitalisasi transaksi. “Jika semua elemen ini terpenuhi, Pasar Induk Natar bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang meningkatkan produktivitas pertanian, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong transformasi ekonomi daerah secara berkelanjutan,” pungkas Dr. Khairudin. (*).












