Pasar Induk Natar, Taruhan Besar Ekonomi Rakyat Lampung

Didorong Jadi Pusat Distribusi Pangan dan Pengendali Inflasi, Akademisi Minta Desain Kebijakan Berpihak pada UMKM

Bandar Lampung — Keputusan Rahmat Mirzani Djausal memusatkan pembangunan Pasar Induk Provinsi Lampung di kawasan Pintu Tol Natar, Kabupaten Lampung Selatan, dinilai sebagai langkah strategis sekaligus berisiko secara politik dan fiskal. Proyek ini tidak sekadar memindahkan aktivitas perdagangan, tetapi diarahkan menjadi simpul distribusi pangan regional, pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus instrumen pengendali inflasi daerah.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Publik sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof. Dr. Nairobi, menilai keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada desain kebijakan yang benar-benar berpihak kepada pelaku usaha kecil.

“Pasar Induk Natar harus diposisikan sebagai instrumen pembangunan ekonomi rakyat. Jika desainnya tepat, pasar ini bisa memperpendek rantai distribusi pangan, menurunkan biaya logistik, sekaligus memperkuat posisi petani dan pelaku UMKM dalam rantai pasok,” kata Nairobi.

Menurutnya, lokasi pasar yang berada di simpul jalan tol memberi keuntungan logistik yang besar. Aktivitas perdagangan dalam skala besar berpotensi memicu tumbuhnya berbagai sektor ekonomi pendukung seperti jasa angkutan barang, pergudangan, warung makan, kios kelontong, hingga layanan keuangan mikro.

“Petani hortikultura dari Tanggamus, Pringsewu, maupun Lampung Barat misalnya, dapat mengirimkan produk langsung ke pasar induk tanpa terlalu bergantung pada banyak perantara. Hal ini bisa menekan biaya transaksi dan meningkatkan margin bagi produsen,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, tanpa desain kebijakan afirmatif, justru ada risiko pelaku usaha kecil tersisih oleh pedagang bermodal besar.

“Alokasi lapak harus memprioritaskan pedagang lama dan UMKM lokal. Tarif retribusi juga sebaiknya progresif dan disertai penguatan kelembagaan koperasi petani maupun nelayan agar mereka punya posisi tawar yang lebih kuat,” tegasnya.

Dari sisi distribusi pangan, Pasar Induk Natar dinilai berpotensi menjadi pusat komoditas strategis Lampung seperti padi, jagung, singkong, hortikultura, dan buah-buahan. Integrasi perdagangan komoditas di satu hub besar dapat mempercepat arus pasok dari sentra produksi ke konsumen.

Namun, Nairobi menekankan pentingnya dukungan infrastruktur logistik seperti gudang modern dan cold storage untuk menekan susut pascapanen.

“Jika dilengkapi fasilitas penyimpanan yang baik serta sistem data harga yang transparan, pasar ini bisa menjadi pusat pengendali inflasi daerah. Pemerintah dapat memantau pasokan dan harga pangan dari satu simpul sehingga intervensi kebijakan bisa dilakukan lebih cepat,” jelasnya.

Meski demikian, ia juga mengingatkan agar kehadiran Pasar Induk Natar tidak mematikan pasar tradisional lain di tingkat kecamatan.

“Pasar induk harus difokuskan sebagai pasar hulu atau grosir. Sementara pasar tradisional tetap menjadi pusat ritel dan interaksi sosial ekonomi masyarakat. Pemerintah perlu mengatur pembagian peran antar-pasar melalui regulasi yang jelas,” katanya.

Dalam aspek kelembagaan, Nairobi mendorong pengelolaan pasar menggunakan skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar tetap berorientasi pada pelayanan publik.

“Model BLUD memberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan, tetapi tetap menempatkan stabilisasi harga dan pelayanan pedagang sebagai prioritas, bukan semata mengejar laba seperti BUMD,” ujarnya.

Ia juga menilai Lampung dapat belajar dari praktik pengelolaan pasar induk dunia seperti Rungis International Market di Prancis dan Xinfadi Market di Beijing, yang berhasil menjadi pusat logistik pangan modern dengan sistem informasi harga dan pengawasan kualitas komoditas yang terintegrasi.

“Keberhasilan pasar induk bukan hanya dari bangunannya yang besar, tetapi dari kemampuannya menjadi simpul logistik, pusat data pangan, serta penggerak ekonomi regional,” kata Nairobi.

Ia menambahkan, dalam perspektif teori growth pole, pembangunan Pasar Induk Natar berpotensi menciptakan efek pengganda ekonomi yang besar bagi Lampung, mulai dari sektor jasa, perdagangan, hingga industri pengolahan.

Namun syaratnya jelas.

“Okupansi kios harus tinggi, arus barang harus besar dan melayani wilayah regional, serta biaya operasional harus dapat ditutup dari pendapatan pasar. Jika tiga syarat ini terpenuhi, Pasar Induk Natar bisa menjadi urat nadi baru perekonomian Lampung,” pungkasnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *