HAUL BUNG KARNO KE-56, KETUT SUWENDRA AJAK GENERASI MUDA RAWAT KEBHINNEKAAN

Demokrasi dan Persatuan Harus Tetap Menjadi Fondasi Indonesia Hadapi Tantangan Global

LAMPUNG TENGAH – Peringatan Haul Bung Karno ke-56 dimaknai sebagai momentum penting untuk memperkuat semangat demokrasi, persatuan, dan kebhinnekaan di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang semakin kompleks. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, drh. I Ketut Suwendra, MM, menegaskan bahwa peringatan wafatnya Proklamator Kemerdekaan RI tersebut tidak boleh hanya menjadi seremonial atau nostalgia sejarah semata.

Menurut legislator Daerah Pemilihan Lampung II itu, nilai-nilai perjuangan dan pemikiran Bung Karno harus terus dihidupkan sebagai pedoman dalam menjaga keutuhan bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa.

“Peringatan Haul Bung Karno setiap 21 Juni harus menjadi momentum bagi kita semua untuk merawat demokrasi dan kebhinnekaan. Bung Karno telah meletakkan dasar yang kuat bahwa Indonesia dibangun atas keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan dalam semangat persatuan,” ujar I Ketut Suwendra, Minggu (21/6/2026).

Politisi yang akrab disapa Pak Yogi itu menilai demokrasi yang sehat hanya dapat tumbuh apabila masyarakat mampu menghormati perbedaan pandangan dan menjadikan musyawarah sebagai jalan penyelesaian berbagai persoalan.

“Bung Karno mengajarkan bahwa demokrasi Indonesia harus berakar pada musyawarah dan gotong royong. Karena itu, semangat tersebut harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari agar persatuan bangsa tetap terjaga,” katanya.

Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut menegaskan bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan besar yang harus dijaga bersama, bukan justru menjadi sumber perpecahan.

“Kebhinnekaan adalah anugerah. Bung Karno mengajarkan bahwa persatuan bukan berarti menyeragamkan semua perbedaan, tetapi menghargai keberagaman untuk mencapai tujuan besar, yakni kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

I Ketut Suwendra yang lahir di Seputih Banyak, Lampung Tengah, pada 17 April 1976 juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Menurutnya, tantangan era digital yang sarat arus informasi menuntut kaum muda memiliki pemahaman sejarah yang kuat agar tidak mudah terpecah oleh isu-isu yang dapat mengganggu persatuan bangsa.

“Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Dengan memahami sejarah perjuangan Bung Karno dan para pendiri bangsa, kita akan memiliki kesadaran yang lebih kuat untuk berkontribusi nyata bagi negara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa nasionalisme, toleransi, dan semangat gotong royong harus terus ditanamkan kepada generasi penerus agar Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global dengan tetap menjaga identitas dan jati dirinya sebagai bangsa yang majemuk.

Melalui peringatan Haul Bung Karno ke-56, I Ketut Suwendra berharap nilai-nilai persatuan, demokrasi, dan kebhinnekaan tetap menjadi modal utama bangsa Indonesia dalam melangkah menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan sejahtera.

“Warisan terbesar Bung Karno bukan hanya kemerdekaan, tetapi juga semangat persatuan yang menyatukan seluruh anak bangsa. Tugas kita hari ini adalah menjaga dan melanjutkan cita-cita besar tersebut demi Indonesia yang semakin kuat dan bermartabat,” pungkasnya.

MERAWAT WARISAN SANG PROKLAMATOR

Haul Bung Karno ke-56 menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun bangsa tidak berhenti pada kemerdekaan. Nilai-nilai yang diwariskan Sang Proklamator, seperti demokrasi, gotong royong, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman, tetap relevan menjadi fondasi Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman. Bagi generasi muda, memahami sejarah dan meneladani semangat Bung Karno merupakan langkah penting untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *