Bandar Lampung — Kebijakan pendirian SMA Siger oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung kembali menuai dukungan. Ketua DPW PWDPI Lampung, Richo Tambuse, menilai langkah Wali Kota Eva Dwiana lahir dari niat baik untuk memperluas akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu. Namun demikian, ia menegaskan pentingnya pengawasan publik agar tujuan mulia tersebut tetap berjalan di rel yang benar.
“Niat Wali Kota Eva ini baik. Kita harus berpikir positif dulu. SMA Siger hadir untuk menjawab keterbatasan daya tampung SMA negeri. Tinggal bagaimana kita bersama-sama mengawasi agar tidak melenceng dari tujuan awal,” ujar Richo Tambuse saat menghadiri temu masyarakat, Rabu (28/1/2026).
Richo menambahkan, kontrol sosial menjadi kunci agar kebijakan pendidikan gratis ini tidak menimbulkan polemik di kemudian hari. Menurutnya, pengawalan masyarakat justru akan memperkuat legitimasi dan keberlanjutan program.
Dukungan terhadap SMA Siger juga datang dari Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Pemerintah Provinsi, kata dia, siap mempercepat proses perizinan melalui Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. “Ini upaya nyata menjawab kebutuhan masyarakat. Pemprov mendukung agar proses hukumnya berjalan lancar,” tegas Gubernur dalam rapat koordinasi akhir Januari lalu.
Sejak dibuka pada Juli 2025, SMA Siger telah beroperasi di empat lokasi dengan memanfaatkan fasilitas SMP negeri yang tidak lagi digunakan dan telah menampung ratusan siswa. Seluruh biaya pendidikan, termasuk buku dan fasilitas belajar, ditanggung Pemkot Bandar Lampung. Yayasan Siger Prakarsa Bunda menegaskan seluruh operasional telah dianggarkan hingga Juni 2026.
Wali Kota Eva Dwiana menegaskan, SMA Siger merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah menghadirkan pendidikan yang adil dan inklusif. “Kami tidak ingin anak-anak Bandar Lampung kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan kursi SMA negeri. SMA Siger adalah solusi, dan kami terus menyempurnakan seluruh aspek hukum dan administrasinya,” ujar Eva.
Ke depan, Pemkot Bandar Lampung juga berencana mengalihfungsikan Terminal Panjang yang terbengkalai menjadi SMA Siger baru dengan kapasitas hingga 2.000 siswa, sekaligus mengoptimalkan aset daerah.
Bagi masyarakat, kehadiran SMA Siger menjadi secercah harapan. Siti Nurhaliza (42), warga Kecamatan Bumi Waras, mengaku sangat terbantu. “Anak saya tidak lolos SMA negeri. Dengan SMA Siger, dia bisa tetap sekolah tanpa biaya. Ini sangat berarti bagi keluarga kami,” katanya. (*).












