Putra Pergi, Grup Wartawan Mendadak Sunyi
BANDAR LAMPUNG — Minggu, 13 September 2026, seharusnya menjadi hari biasa bagi komunitas wartawan di Lampung. Namun, menjelang petang, sebuah percakapan di grup WhatsApp berubah menjadi kepanikan. Pesan-pesan pendek berisi permintaan tolong bersahutan. Ada yang diminta mendatangi tempat tinggal Putra. Ada yang mencoba mencari tahu kondisinya. Sebagian lainnya masih berharap kabar buruk itu tidak benar.
“Tolong ke kosannya sih. Septi juga gak tau,” tulis salah seorang rekan sekitar pukul 17.54 WIB.
Beberapa menit kemudian, suasana semakin genting. Istri almarhum, Gita, disebut dalam kondisi histeris. Rekan-rekan wartawan yang berada di sekitar Bandar Lampung diminta segera bergerak.
Tidak ada yang menyangka, rangkaian pesan itu akan menjadi awal dari kabar kehilangan seorang kawan seperjuangan.
DARI PANIK MENJADI DUKA
Sekitar pukul 18.17 WIB, Yusuf Ramadhan—yang akrab disapa Putra—mengembuskan napas terakhir di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Bandar Lampung.
Informasi mengenai kepergian Putra kemudian menyebar cepat di antara para wartawan.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Barusan nelpon Kiyai Hermawan, bang Putra udah gak ada,” tulis salah seorang anggota grup pada sekitar pukul 18.19 WIB.
Sekejap, percakapan yang sebelumnya dipenuhi pertanyaan dan permintaan pertolongan berubah menjadi ucapan belasungkawa.
“Ya Allah…”
“Innalillahi wainnailaihi rojiun.”
“Semoga almarhum husnul khatimah.”
Pesan-pesan itu terus mengalir. Sebagian hanya berupa kalimat singkat, sebagian lainnya disertai tangisan. Namun semuanya membawa satu perasaan yang sama: kehilangan.
MASIH MUDA, MASIH PUNYA BANYAK CERITA
Putra dikenal sebagai wartawan yang bergaul luas di kalangan jurnalis Lampung. Ia tercatat sebagai wartawan Konkrit News dan menjadi bagian dari keluarga besar Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung.
Kepergiannya terasa begitu mendadak bagi rekan-rekan seprofesi.
Dalam percakapan grup, salah seorang wartawan bahkan mengingatkan bahwa Putra masih berusia 33 tahun.
“Umur gak ada yang tau. Selagi masih bisa ibadah maka sholatlah. Putra baru 33 tahun, masih muda banget, tapi waktu dia sudah sampai,” tulis seorang rekannya.
Kalimat sederhana itu kemudian menjadi semacam renungan bagi mereka yang malam itu masih berkumpul di tengah kabar duka.
Sebab di balik rutinitas mengejar berita, tenggat waktu, rapat redaksi, liputan dan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain, para wartawan juga adalah manusia yang sewaktu-waktu harus berhadapan dengan kehilangan orang terdekat.
KAWAN-KAWAN DATANG, BUKAN SEKADAR MELIPUT
Malam itu, sejumlah wartawan bergerak menuju RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Yang lain mendatangi rumah duka. Bahkan, kebutuhan pemulasaraan almarhum segera dikoordinasikan bersama.
Ada yang mencari kain kafan. Ada yang menawarkan bantuan mengantar. Ada yang mengatur kendaraan. Ada pula yang mengajak rekan-rekan untuk bersama-sama mengantar Putra ke kampung halamannya.
Di tengah kesedihan, solidaritas profesi terlihat nyata.
“Kita kasi penghormatan terakhir untuk almarhum,” tulis salah seorang wartawan.
Rencana keberangkatan pun disusun. Sebagian sepakat berkumpul di sekitar PWI Lampung. Sebagian lainnya memilih berangkat sejak selepas Subuh.
Putra akan dibawa ke Desa Kedondong, Kabupaten Pesawaran, kampung halamannya, untuk dimakamkan.
Bagi keluarga, ini adalah kehilangan seorang suami, ayah, anak dan anggota keluarga. Bagi dunia jurnalistik Lampung, Putra adalah seorang kawan yang tak lagi akan terlihat duduk bersama, berbincang, bercanda, atau mengejar berita.
“RUMAH BARU”
Satu pesan yang ditulis malam itu terasa begitu dalam.
“Besok kita yang anter Putra ke ‘rumah baru’-nya, dan bisa jadi besok lusa mungkin kita yang dianter ke rumah masa depan kita. Ajal gak ada yang tahu, kawan-kawan.”
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa profesi jurnalistik bukan hanya tentang berita yang ditulis dan diterbitkan.
Ada persahabatan yang tumbuh di jalan. Ada solidaritas yang lahir dari kesamaan profesi. Ada kawan yang ditemui hampir setiap hari, lalu tiba-tiba harus dilepas untuk selamanya.
Malam semakin larut. Grup percakapan perlahan mulai sunyi. Namun, rencana penghormatan terakhir untuk Putra terus berjalan.
Minggu petang, Putra pergi. Senin pagi, kawan-kawannya akan mengantarkan dia pulang untuk terakhir kali.
Keluarga besar Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung pun menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya Yusuf Ramadhan (Putra) bin Aminurrasyid Hamid.
Selamat jalan, Putra.
Terima kasih untuk setiap persahabatan, tawa, perjalanan dan cerita yang pernah ditinggalkan.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf, menerima seluruh amal ibadah, melapangkan kubur, dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Al-Fatihah. (*).












