Oleh
Apriyan Sucipto, SH, MH
( Pemerhati Politik, Sosial dan Budaya)
Perhelatan Piala Dunia U-20 Indonesia memunculkan dua kutub berbeda di masyarakat. Kelompok pertama menginginkan event ini harus berjalan apapun yang terjadi. Kelompok satunya mencoba mengganjal penyelenggaraan karena tidak mau Israel bermain di Indonesia.
Nah kelompok kedua sudah bisa diduga siapa. Mereka adalah kelompok PKS, eks FPI/HTI, dan kaum oposan yang apa-apa selalu dikaitkan dengan agama. Mereka meramaikan media. Buzzer-buzzer medsos sudah bekerja. Bahkan sudah ada yang turun ke jalan memanaskan suasana.
TIba-tiba muncullah sebuah berita. Ganjar Pranowo Tolak Israel Main di Indonesia. Mengejutkan memang. Terutama bagi pendukung pemerintah. Mereka tidak mengira Ganjar ikut bersuara keras. Sebagian kecewa. Ganjar dinilai ikut-ikutan berpihak pada kadrun-kadrun yang menentang pemerintah.
Namun yang tidak banyak diketahui orang. Situasi sebenarnya lebih panas dari yang terlihat di permukaan. Ada skenario dari tangan-tangan tak kelihatan yang akan memicu kerusuhan horisontal. Isu Israel-Palestina dimanfaatkan untuk mengganggu stabilitas nasional. Chaos. Tujuannya tidak hanya menggagalkan Piala Dunia U-20 tapi juga menggagalkan Pemilu 2024 bahkan meruntuhkan negara.
Nah di sinilah Ganjar mengambil peran. Ia turun gelanggang. Tepat berada di tengah. Mungkin terlihat seolah-olah berada di kubu penentang pemerintah. Namun sejatinya keberadaan Ganjar menghambat pergerakan kaum oposisi. Dengan adanya Ganjar maka kelompok-kelompok yang mau menyerang harus berhitung sekian kali.
Lebih jelasnya begini. Semula orang-orang yang menolak Israel itu satu kubu: kadrun dan oposisi. Mudah bagi mereka untuk menyatukan kekuatan membuat satu gelombang besar. Misalnya mengarahkan isu ini menjadi sentimen agama untuk memicu kerusuhan nasional.
Namun tiba-tiba ada Ganjar bersama PDIP yang ikut menolak Israel. Jelas bahwa Ganjar tidak satu frekuansi dengan kaum oposan. Ganjar kemudian membelah gerakan penolak israel ini dengan membawa muatan baru. Bukan terkait agama. Namun terkait ideologi nasional, Bung Karno, dan politik anti penjajahan Indonesia yang termuat dalam pembukaan UUD 1945.
Dampaknya apa? Pihak-pihak yang kemarin bermain dengan balutan agama untuk menyerang pemerintah jadi bingung. Mereka terpecah belah. Yang awalnya mau membuat move besar untuk menggoyang pemerintah jadi menghitung ribuan kali. Minimal, dengan adanya GP di situ, kaum oposisi tidak bisa menari-nari di isu Israel-Palestina. Anies misalnya. Kebingungan dia. Mau ikut menolak Israel nanti dituding mengekor. Sedangkan kalau tidak ikut menolak maka akan dipertanyakan sikapnya oleh pendukungnya sendiri.
Sekali lagi di sinilah kecerdasan Ganjar Pranowo. Ia menjadi benteng yang membloke serangan kaum oposisi. Isu Israel kini seolah-olah hanya menjadi diskursus kelompok pendukung pemerintah. Kaum oposisi menjadi enggan terlibat lebih jauh karena menganggap hanya akan menguntungkan Ganjar atau pihak pemerintah lainnya.
Pada akhirnya isu Israel-Palestina hanya menjadi bola hangat yang menggelinding pelan saja. Tidak sempat menjadi bola panas yang membesar dan bergulir kemana-mana.
Di sisi lain, tim PSSI yang sekarang sedang melobi FIFA bisa bertugas dengan tenang. Kita yakin kok akan ada formula yang memuskan kedua pihak. Piala Dunia U-20 tetap berjalan dengan sukses dan gemilang. (*).












