BANDAR LAMPUNG — Denting gamelan, hentakan kaki penari, dan atraksi kuda lumping menghidupkan suasana Gedong Air, Kota Bandar Lampung, Minggu (13/9/2026) siang. Kelompok seni budaya Turonggo Pujakesuma tampil memukau membawakan Kuda Lumping Kreasi Dangdut dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Pertunjukan kesenian tradisional tersebut bukan sekadar hiburan. Di balik atraksi yang disambut antusias warga, terselip pesan kuat tentang pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Pimpinan Turonggo Pujakesuma sekaligus Ketua DPW PKB Pujakesuma Lampung, Nuryono, mengajak masyarakat menjadikan seni budaya sebagai bagian penting dalam kehidupan generasi masa kini.
“Alangkah pentingnya kita semua menjaga dan melestarikan budaya Jawa. Jangan sampai budaya leluhur kita ini perlahan hilang dan tergantikan oleh budaya asing yang belum tentu cocok dengan jati diri bangsa Indonesia,” kata Nuryono.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan adat istiadat dan budaya yang sangat beragam. Kekayaan tersebut harus dirawat bersama agar tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Nuryono juga mengajak generasi muda hingga orang tua untuk bergotong royong mempertahankan budaya sebagai identitas bangsa.
“Bangsa Indonesia ini sangat kaya adat istiadat dan keberagaman budaya. Mari kita jaga warisan leluhur bangsa bersama-sama, agar tetap hidup, dihargai, dan dibanggakan oleh anak cucu kita kelak,” tegasnya.
WARGA TUMPAH RUWAH
Pantauan di lokasi menunjukkan penampilan Turonggo Pujakesuma mendapat sambutan meriah warga Gedong Air dan sekitarnya. Kesenian kuda lumping yang dikemas dengan sentuhan kreasi dangdut tersebut menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat.
Pertunjukan itu sekaligus memperlihatkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Seni budaya menjadi ruang bertemunya berbagai generasi, sekaligus sarana mempererat persaudaraan.
Di tengah perayaan kemerdekaan, Turonggo Pujakesuma membawa pesan sederhana namun penting: merayakan Indonesia tidak hanya dengan mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga dengan menjaga budaya yang menjadi jati diri bangsa.
Dari Gedong Air, semangat itu kembali ditabuh—melalui gamelan, gerak kuda lumping, dan antusiasme warga yang menyaksikan warisan leluhur tetap hidup di tengah zaman. (*).












