SAWAH KERING JADI ARENA LAYANGAN SEMALAM SUNTUK

Ratusan Peserta Adu Ketahanan, Warga Guyub dan Ekonomi Lokal Ikut Berputar

LAMPUNG TIMUR — Pemandangan tak biasa tersaji di areal persawahan Dusun III, Desa Taman Fajar, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, Sabtu (5/9/2026) malam. Hamparan sawah yang biasanya dipenuhi aktivitas petani menanam padi, jagung, atau menggarap lahan, malam itu berubah menjadi arena perlombaan layangan semalam suntuk.

Kemarau panjang membuat sebagian areal persawahan mengering dan belum dapat ditanami. Kondisi tersebut dimanfaatkan warga dan pemuda Desa Taman Fajar untuk menghadirkan hiburan sekaligus ajang adu ketahanan layangan yang berlangsung hingga pagi hari.

Sekitar 350 peserta ambil bagian dalam lomba yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai wilayah. Mereka bukan hanya berasal dari Purbolinggo, tetapi juga dari Bumi Jawa, Way Bungur, Raman Utara, Sukadana dan daerah sekitarnya.

Peserta dikenakan biaya administrasi pendaftaran sebesar Rp35 ribu. Sementara hadiah utama yang diperebutkan mencapai jutaan rupiah.

Namun, hadiah bukan satu-satunya daya tarik. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada kemampuan peserta mempertahankan layangannya tetap mengudara sepanjang malam.

Layang-layang mulai diterbangkan sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah itu, peserta harus menjaga layangannya agar tetap bertahan di udara hingga pagi. Panjang benang layangan telah ditentukan panitia dan menjadi salah satu ketentuan perlombaan.

Layang-layang yang mampu bertahan terbang hingga keesokan harinya sesuai ketentuan panitia berhak dinobatkan sebagai pemenang.

Suasana persawahan yang biasanya lengang pada malam hari pun berubah menjadi semarak. Cahaya lampu, suara warga, dan aktivitas para peserta berpadu dengan bayang-bayang layangan yang menghiasi langit malam.

Warga dari berbagai usia turut berdatangan. Anak muda, remaja hingga orang tua tampak guyub berkumpul. Sebagian menjadi peserta, sementara lainnya memilih menjadi penonton yang menikmati jalannya perlombaan.

Hiburan di Tengah Kemarau

Bagi masyarakat, lomba tersebut menjadi pemandangan menarik. Sawah yang untuk sementara tidak bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam justru menghadirkan ruang baru bagi kegiatan warga.

Kemarau panjang yang membuat lahan pertanian mengering seolah menghadirkan cerita lain malam itu. Hamparan tanah yang biasanya identik dengan kegiatan bertani berubah menjadi tempat berkumpul, bersosialisasi dan mencari hiburan.

oplus_32

Di tengah suasana tersebut, warga sekitar juga menangkap peluang ekonomi.

Sejumlah warga membuka lapak sederhana di sekitar lokasi perlombaan. Ada yang menjual kopi dan teh hangat untuk mengusir dinginnya malam, Pop Mie, gorengan, camilan, makanan ringan hingga aneka jajanan bakaran.

Pedagang tidak hanya menunggu pembeli di lapaknya. Hilir mudik warga menjajakan dagangan kepada peserta dan pengunjung yang berada di sekitar arena.

Kegiatan yang berlangsung semalam suntuk itu membuat roda ekonomi masyarakat kecil ikut bergerak.

Bagi pedagang, keramaian lomba menjadi kesempatan mendapatkan tambahan penghasilan. Bagi pengunjung, keberadaan pedagang membuat suasana menonton semakin nyaman karena makanan dan minuman mudah didapat tanpa harus meninggalkan lokasi.

Tak hanya berjualan, warga juga memanfaatkan lahan di sekitar permukiman untuk dijadikan area parkir. Peserta dan pengunjung dapat memarkir kendaraan dengan tarif yang relatif terjangkau.

Sawah Tetap Harus Dijaga

Meski arena lomba menggunakan areal persawahan yang sedang kering dan tidak ditanami, panitia tetap mengingatkan peserta untuk menjaga kondisi lahan.

Peserta dihimbau tidak melakukan tindakan yang dapat merusak areal persawahan. Lahan pertanian tetap harus dijaga agar ketika musim tanam tiba dapat kembali dimanfaatkan para petani.

Pesan tersebut menjadi penting karena di balik kemeriahan lomba, hamparan sawah itu tetap merupakan ruang produksi masyarakat.

Malam itu, untuk sementara waktu, sawah bukan hanya menjadi tempat bertani. Di bawah langit Lampung Timur, hamparan lahan kering berubah menjadi arena permainan tradisional yang mempertemukan ratusan orang.

Layangan-layangan diterbangkan menembus gelap malam. Para peserta berjaga dan sesekali memastikan layangan mereka tetap stabil. Sementara di bawahnya, warga menikmati kopi hangat, jajanan dan suasana kebersamaan.

Ketika pagi datang, hanya layangan yang masih bertahan di langit sesuai ketentuan yang akan berbicara.

Dari sebuah sawah yang mengering akibat kemarau, lahirlah sebuah pemandangan yang berbeda: tradisi permainan, kebersamaan warga dan perputaran ekonomi bertemu dalam satu malam. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *