TEMPAT DISKUSI “PESTA BABI” KEMBALI BERGESER

Panitia Sebut Ada Ketakutan ASN, Yasir: “Takut dan Apatis Itu Berhubungan”

Bandar Lampung — Agenda diskusi publik dan screening film Pesta Babi kembali mengalami perpindahan lokasi. Setelah sebelumnya dipindahkan dari area kampus ke sebuah kafe di Jalan Pramuka, panitia kini kembali harus mencari tempat baru setelah lokasi yang telah disepakati mendadak membatalkan penggunaan tempat.

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Yasir Setiawan, menyebut pembatalan dilakukan secara sepihak oleh pihak pengelola lokasi. Meski demikian, panitia memastikan kegiatan tetap berlangsung dan lokasi pengganti telah disiapkan.

“Kami menghormati keputusan tersebut, meskipun tentu sangat kami sayangkan. Tapi Alhamdulillah kami langsung bergerak cepat dan mendapatkan tempat yang lebih proper dan lebih luas. Nanti akan kami sampaikan menyusul,” ujar Yasir, Kamis (15/5).

Menurut Yasir, pihak pengelola lokasi sebelumnya mengaku khawatir terhadap dampak kegiatan itu terhadap status pekerjaan mereka sebagai aparatur sipil negara (ASN). Kondisi tersebut dinilai menjadi gambaran masih adanya rasa takut sebagian masyarakat untuk terlibat dalam ruang diskusi publik.

“Kami sangat menyayangkan ketika ada masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pemerintahan atau ASN, yang memilih menjaga jarak dari ruang diskusi seperti ini karena khawatir terhadap karier atau penilaian tertentu. Padahal diskusi publik dan film adalah bagian dari ruang edukasi masyarakat,” tegasnya.

Panitia menilai fenomena tersebut menunjukkan rendahnya keberanian publik dalam membahas persoalan sosial dan lingkungan secara terbuka. Yasir bahkan mengaitkan sikap apatis dengan berbagai persoalan lingkungan yang kini banyak memicu bencana di sejumlah daerah.

“Kita melihat sendiri bagaimana Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga Musirawas diterjang bencana. Di Bandar Lampung sendiri banjir terus terjadi di banyak titik setiap musim hujan. Ini bukan persoalan kecil,” katanya.

Ia menegaskan kegiatan diskusi dan screening film tersebut bertujuan membangun kesadaran publik terhadap isu lingkungan, sosial, dan pentingnya budaya berpikir kritis di tengah masyarakat.

“Melihat dinamika yang ada, mulai dari pembubaran, penghalangan di beberapa wilayah, hingga perpindahan lokasi yang kami alami, saya menyampaikan bahwa takut dan apatis itu berhubungan,” tutup Yasir.

Meski beberapa kali mengalami perpindahan lokasi, panitia memastikan agenda diskusi dan screening film tetap berjalan sesuai rencana. Mereka menilai dinamika yang terjadi justru memperkuat semangat untuk menghadirkan ruang diskusi yang sehat, terbuka, dan edukatif bagi masyarakat. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *