Jakarta Macet, Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi Dikepung Massa
Bandarlampung — Sejumlah massa yang tergabung dalam Triga Lampung kembali menggelar aksi besar-besaran di ibu kota, Rabu (22/4/2026). Konvoi puluhan kendaraan menuju Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, memicu kemacetan panjang dan menyedot perhatian publik.
Dengan spanduk, teatrikal, serta mobil komando bersuara lantang, massa “mengepung” kantor lembaga antirasuah tersebut. Aksi ini disebut sebagai gerakan berkelanjutan hingga seluruh tuntutan mereka dipenuhi.
Suadi Romli menegaskan desakan agar KPK segera mengusut dan menangkap pelaku korupsi di Lampung. “Kami minta KPK bertindak cepat dan tegas. Jangan biarkan kerugian negara terus membesar,” serunya dalam siaran persnya.
Isu utama yang diangkat berkaitan dengan dugaan penyimpangan proyek Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Lampung tahun anggaran 2025/2026. Proyek rehabilitasi dan renovasi madrasah dengan nilai puluhan miliar rupiah di sejumlah kabupaten disebut bermasalah.
Koordinator lapangan Indra Mustain bahkan membeberkan temuan dugaan ketidaksesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis dan RAB. Dari atas mobil komando, ia menunjukkan dokumen dan data kepada publik sebagai bentuk transparansi.
“Kami mendesak audit investigasi segera dilakukan sebelum kerugian negara semakin besar,” tegasnya.
Tak hanya itu, Triga Lampung juga menyoroti dugaan korupsi dana CSR Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan periode 2020–2024 yang dinilai mandek. Massa mendesak KPK menuntaskan kasus tersebut tanpa intervensi politik.
Sorotan lain mengarah pada proyek infrastruktur di Kabupaten Lampung Timur senilai hampir Rp24 miliar yang diduga bermasalah, hingga kasus perjalanan dinas DPRD Tanggamus dengan indikasi kerugian negara Rp7,7 miliar yang belum tuntas penanganannya.
Sudirman Dewa menyatakan pihaknya akan melanjutkan langkah dengan mendatangi Kementerian PU serta menyerahkan laporan resmi ke KPK. Mereka juga mendesak evaluasi total hingga pencopotan pejabat terkait jika terbukti terjadi pelanggaran.
Menutup aksi, massa memastikan akan kembali menggelar demonstrasi lanjutan di KPK maupun Kejaksaan Agung.
“Aksi ini tidak akan berhenti sampai penegakan hukum benar-benar ditegakkan,” ujar perwakilan massa.
Aksi Triga Lampung menjadi simbol tekanan publik agar aparat penegak hukum bertindak lebih tegas, transparan, dan akuntabel dalam menuntaskan berbagai dugaan kasus korupsi yang dinilai masih menggantung. (*)












