Tegakkan Keadilan, Perkuat Persatuan Bangsa
BANDAR LAMPUNG — Anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), H. Alimuddin, mengajak masyarakat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai landasan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan memperkuat semangat kebangsaan.
Ajakan tersebut disampaikan Alimuddin saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Kota Karang, Kota Bandar Lampung, Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema **“Tegakkan Keadilan, Amalkan Pancasila, Integritas Diri Cermin Pancasila.”**
Dalam kegiatan tersebut, Alimuddin menghadirkan dua narasumber, yakni Marfen Effendi, S.Ag., mantan anggota DPRD Kota Bandar Lampung, serta Drs. Jasraman, M.Pd., untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Alimuddin menegaskan, Pancasila tidak sekadar menjadi dasar negara, tetapi juga merupakan pedoman hidup yang mengandung nilai-nilai luhur untuk mempersatukan bangsa Indonesia di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.
“Oleh karenanya, setiap anggota DPRD Kota Bandar Lampung melaksanakan PIP-WK dengan harapan masyarakat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila menyatukan perbedaan, Pancasila mempersatukan bangsa,” kata Alimuddin di hadapan peserta sosialisasi.
Menurutnya, pengamalan Pancasila harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata, mulai dari menghormati sesama, menjaga kerukunan, menjunjung keadilan, hingga membangun kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.
### PANCASILA HARUS DIAMALKAN
Dalam pemaparannya, Marfen Effendi menjelaskan makna setiap sila Pancasila beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan masyarakat untuk beriman kepada Tuhan, menjaga moral dan akhlak, serta menghormati perbedaan agama dan keyakinan.
“Mengajarkan kita untuk beriman kepada Tuhan, menjaga moral dan akhlak, serta menghargai perbedaan agama dan keyakinan,” urai Marfen.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya dipahami dan dihafalkan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Sikap saling menghormati, menjaga toleransi, serta memperlakukan setiap orang secara adil menjadi bagian penting dari penerapan ideologi bangsa.
Sementara itu, Jasraman menggarisbawahi pentingnya membangun pemahaman bahwa nilai-nilai agama dan Pancasila dapat berjalan selaras dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Keberagaman yang ada merupakan bagian dari kehidupan berbangsa yang harus disikapi dengan bijaksana dan penuh penghormatan.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki beragam suku, budaya, adat istiadat, serta keyakinan yang menjadi kekayaan bangsa. Nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan perumusan Pancasila sebagai dasar negara.
“Artinya, Pancasila dari sejarahnya adalah kaidah-kaidah yang ada di masyarakat, baik adat istiadat, dirangkum dalam satu asas yakni Pancasila, sehingga tidak bertentangan dengan agama dan etika-etika yang ada di Indonesia,” jelas Jasraman.
Melalui sosialisasi PIP-WK tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami kedudukan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman dalam menjaga kerukunan, menegakkan keadilan, dan merawat persatuan di tengah keberagaman.
Pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan itu adalah pentingnya menjadikan Pancasila sebagai pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar simbol atau hafalan. Dengan demikian, semangat kebangsaan dapat terus terpelihara mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kehidupan bernegara. (*).












