LAMPUNG TIMUR — Video pelajar sekolah dasar yang menyeberangi Kali Way Bungur menggunakan perahu kecil kembali mengguncang ruang publik. Tayangan itu viral di media sosial dan memantik gelombang kemarahan warganet yang menyoroti lambannya penanganan infrastruktur vital di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur.
Di tengah derasnya kritik, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela melalui akun Instagram pribadinya, @jihanchalim, akhirnya angkat bicara. Dalam unggahan yang disukai ribuan akun, ia menegaskan pemerintah provinsi tidak tinggal diam dan telah mengawal persoalan jembatan Way Bungur jauh sebelum video itu viral.
“Jembatan Way Bungur bukan soal diam atau abai. Ini soal proses dan tanggung jawab,” tulis Jihan dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, secara kewenangan pembangunan jembatan permanen berada di tangan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Namun demikian, Pemprov Lampung mengklaim telah melakukan pendampingan, mengajukan dukungan ke pemerintah pusat, serta berkolaborasi dengan Kodam II/Sriwijaya untuk membangun jembatan darurat yang disebut Jembatan Merah Putih.
Pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredam amarah publik. Kolom komentar Instagram justru berubah menjadi arena debat panas antara warga dan akun resmi Wakil Gubernur.
Salah satu komentar yang paling banyak disukai datang dari akun @tianwicaksono93:
“Apa-apa harus viral dulu ya baru ditangani? Ya Allah, gini amat hidup di Konoha.”
Komentar lain bernada sinis menyebut viralitas sebagai “pemantik kerja pemerintah”.
“Tenang mas, nanti dibangun kok. Dah viral soalnya,” tulis @ariadventure17.
Tak sedikit pula warga yang mempertanyakan lamanya koordinasi antar-pemerintah.
“Masak koordinasi butuh waktu 16 tahun? Selama ini bupati dan gubernur yang lalu ke mana saja?” kritik akun @edomilikanisa.
Menanggapi tudingan bahwa warga dilarang merekam video, Jihan secara tegas membantah.
“WALLAHI saya tidak ada intervensi seperti fitnah tersebut. Tidak ada larangan masyarakat merekam atau menyuarakan aspirasi,” balasnya kepada akun @ripkinuralam.
Namun gaya balasan akun Wakil Gubernur yang dinilai emosional justru menuai kritik baru.
“Buset, jawaban admin Wakil Gubernur gini amat. Hati-hati dirujak netizen,” sindir @telurasinnenek.
Di sisi lain, sejumlah warganet mendesak pemerintah turun langsung ke lapangan, bukan sekadar aktif di media sosial.
“Turun gununglah, jangan pencitraan di medsos aja,” tulis @jastingoeltom.
Kasus Way Bungur kembali membuka luka lama soal ketimpangan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil. Bagi warga, jembatan bukan sekadar proyek, melainkan urat nadi kehidupan—akses pendidikan, ekonomi, dan keselamatan generasi penerus.
Seperti disimpulkan seorang netizen:
“Terima kasih yang videoin. Kalau nggak viral, pejabatnya nggak gerak,” tulis @permanayeyen.
Kini, publik menunggu bukan lagi klarifikasi, melainkan bukti nyata: jembatan aman yang benar-benar berdiri, tanpa harus menunggu tragedi berikutnya. (*).












