BANDAR LAMPUNG – Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menantang mahasiswa baru untuk membuktikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui tantangan 100 hari pertama perkuliahan. Mahasiswa diminta tidak sekadar belajar di ruang kelas, tetapi berani mengidentifikasi persoalan di lingkungan sekitar, merancang solusi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Pesan tegas itu disampaikan Jihan saat menjadi narasumber perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di STKIP PGRI Bandar Lampung, Senin (28/9/2026). Mengusung tema *“Peran Mahasiswa dalam Menyukseskan Program-program Pemerintah Provinsi Lampung”*, Jihan mengajak generasi muda mengambil bagian dalam pembangunan daerah melalui gagasan, inovasi, penelitian, hingga pengawasan program pemerintah.
Menurut Jihan, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Mereka tidak harus menjadi aparatur pemerintah untuk berkontribusi, melainkan dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan teknologi untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Saya tidak meminta kalian menghasilkan proyek yang besar dan sempurna. Saya ingin kalian melatih kebiasaan untuk peka terhadap masalah sekitar, belajar dari kegagalan, dan bertanggung jawab pada hasil,” tegasnya.
### **100 HARI, SATU MASALAH, SOLUSI NYATA**
Jihan mengajak mahasiswa baru menjadikan 100 hari pertama perkuliahan sebagai momentum membangun kebiasaan produktif. Mahasiswa didorong membentuk kelompok, memilih satu persoalan di lingkungan sekitar, mencari akar masalah, menyusun rencana aksi, melibatkan pihak terkait, dan mengukur hasilnya.
Persoalan yang dapat diangkat tidak harus besar. Kesulitan anak-anak dalam membaca, keterbatasan pemasaran produk UMKM, hingga sulitnya petani memperoleh informasi pasar merupakan contoh masalah yang bisa menjadi ruang pengabdian mahasiswa.
Menurutnya, pendekatan tersebut akan melatih mahasiswa berpikir sistematis, bekerja sama, berkomunikasi, serta bertanggung jawab terhadap hasil kegiatan.
Jihan juga mengingatkan agar aktivitas mahasiswa tidak berhenti pada seremoni atau sekadar menggugurkan kewajiban. Setiap kegiatan harus memiliki tujuan jelas dan memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
### **KUASAI AI, JANGAN KEHILANGAN DAYA KRITIS**
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI), Jihan meminta mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan kreativitas.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir kritis. Teknologi harus diimbangi rasa ingin tahu, empati, kreativitas, serta kemampuan memilah informasi dan mengambil keputusan secara bijak.
“Sebagai mahasiswa, jangan hanya menjadi *be yourself*, melainkan *be the best version of you*. Selalulah menjadi yang terbaik dari diri kalian dalam segala aspek kehidupan,” ujarnya.
Pesan itu dinilai penting, terutama bagi mahasiswa keguruan yang kelak berhadapan dengan generasi muda yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital. Calon pendidik tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu membimbing peserta didik memahami informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan membangun karakter.
### **DESAKU MAJU, MAHASISWA HARUS AMBIL BAGIAN**
Jihan turut mengajak mahasiswa memahami arah pembangunan Lampung dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari pemerataan manfaat dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat.
“Pertanyaan tentang pembangunan tidak boleh berhenti pada apa saja yang dibangun secara fisik. Kita juga perlu bertanya, siapa saja yang merasakan manfaatnya dan siapa saja yang masih tertinggal. Ini yang paling penting,” katanya.
Ia menyoroti potensi sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang perekonomian Lampung. Tantangannya, petani masih membutuhkan penguatan fasilitas pengolahan agar hasil produksi memiliki nilai tambah lebih besar.
Jihan mencontohkan petani yang menjual hasil panen dalam bentuk gabah karena keterbatasan fasilitas pengolahan di desa. Jika pengolahan hasil pertanian diperkuat di tingkat desa, peluang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani juga semakin terbuka.
Dalam konteks tersebut, ia memperkenalkan program unggulan Pemprov Lampung, **Desaku Maju**, sebagai upaya mengintegrasikan pembangunan infrastruktur pertanian dan pengembangan sumber daya manusia desa.
Mahasiswa diharapkan dapat mengambil peran melalui penelitian, pendampingan masyarakat, pemanfaatan teknologi, hingga pengembangan gagasan yang mendukung program pembangunan daerah.
“Pemerintah memang punya kewenangan dan tanggung jawab, tetapi tidak mungkin mengetahui semua persoalan yang dialami masyarakat. Mahasiswa bisa melihat persoalan dari dekat, mengumpulkan bukti, menawarkan gagasan, membantu masyarakat, dan mengawasi program pemerintah,” tegas Jihan.
### **CALON GURU HARUS BERANI BERINOVASI**
Kepada mahasiswa STKIP PGRI Bandar Lampung, Jihan juga mendorong agar peluang masa depan tidak dibatasi hanya pada profesi guru di ruang kelas. Lulusan keguruan memiliki kesempatan mengembangkan karier di bidang teknologi pendidikan, penelitian, pembuatan materi pembelajaran, komunitas belajar, hingga usaha sosial di sektor pendidikan.
Kemampuan berorganisasi, komunikasi publik, kerja sama tim, dan kepekaan sosial, menurutnya, perlu dibangun sejak masa kuliah sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Jihan berharap perguruan tinggi menjadi ruang lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, mampu berinovasi, dan berani menghadirkan perubahan.
Ia menegaskan, masa depan tidak harus menunggu seseorang menyandang gelar sarjana. Kontribusi dapat dimulai sejak mahasiswa duduk di bangku kuliah, melalui langkah sederhana yang dikerjakan secara konsisten.
“So, your future starts before your graduation. Be your best in every situation,” pungkasnya. (*).












