40 HARI WAFATNYA HJ SAODAH, RATUSAN JAMAAH PANJATKAN DOA

Parosil Mabsus: Bakti Anak kepada Orang Tua Tak Pernah Terputus, Silaturahmi Jadi Warisan Kebaikan

BANDAR LAMPUNG – Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kediaman keluarga besar H. Mukhlis Basri dan Hj. Helwiati Komala Dewi di Perum Korpri, Sukarame, Bandar Lampung, Jumat (6/11/2026) malam.

Ratusan jamaah dari berbagai kalangan hadir dalam acara Yasinan dan Tahlil 40 hari wafatnya Hj. Saodah binti Ahmad Sinwani, ibunda anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mukhlis Basri. Mereka datang untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memanjatkan doa bagi almarhumah agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Kehadiran para jamaah bukan sekadar memenuhi undangan keluarga. Momentum 40 hari tersebut juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antara keluarga besar, sahabat, kerabat, tokoh masyarakat, ulama, serta sejumlah pejabat dari berbagai daerah.

Acara tersebut dihadiri Bupati Pesawaran Nanda Indira, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Wakil Walikota Metro M. Rafieq, Ketua Yayasan Alfian Husin Andi Desfiandi, Ketua DPP APINDO Lampung Ary Meizary Alfian, Ketua DPD PAN Bandarlampung Firmansyah Alfian, Presiden Minang Indah Junaedi, Ketua Umum Persadin Oking Ganda Miharja, Ketua DPRD Lampung Barat Edi Novial, Sekretaris Daerah Lampung Barat, sejumlah mantan sekretaris daerah, termasuk mantan Sekda Kota Bandar Lampung Badri Tamam, serta jamaah masjid, tokoh agama, tokoh adat, sahabat dan keluarga besar lainnya.

Mewakili keluarga besar, Parosil Mabsus yang juga Bupati Lampung Barat sekaligus adik kandung Mukhlis Basri, menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan mendalam kepada seluruh masyarakat yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan mendoakan almarhumah.

Dengan penuh haru, Parosil mengungkapkan bahwa kehadiran para jamaah sejak malam pertama hingga malam ke-40 merupakan kehormatan dan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Atas nama keluarga besar, kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh kerabat, sahabat dan handai tolan yang telah berkenan hadir, meluangkan waktu, serta mengirimkan doa untuk almarhumah ibunda kami. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian merupakan kehormatan yang sangat berarti bagi keluarga kami,” ujar Parosil.

Menurutnya, pelaksanaan takziah hingga hari ke-40 bukan semata-mata kegiatan seremonial, melainkan bentuk kecintaan dan bakti anak-anak kepada orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik, mendoakan, serta mengantarkan putra-putrinya hingga mencapai keberhasilan dalam kehidupan.

Ia menegaskan, meskipun seorang ibu telah berpulang, kewajiban anak untuk terus mendoakan orang tua tidak pernah berakhir.

“Acara malam ini merupakan bentuk pengabdian dan bakti kami kepada orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik, dan mendoakan anak-anaknya. Ini juga menjadi wujud kecintaan kami untuk mengenang segala kebaikan dan kesalehan almarhumah,” ungkapnya.

Parosil juga mengajak seluruh jamaah mengambil hikmah dari rangkaian takziah yang telah dilaksanakan selama 40 hari. Salah satunya adalah pentingnya menjaga silaturahmi dan memperkuat hubungan persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Menurut dia, silaturahmi merupakan salah satu jalan untuk memperpanjang umur, memudahkan urusan, serta menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

“Melalui silaturahmi ini, mudah-mudahan kita semua diberikan umur panjang, dimudahkan segala urusan, serta senantiasa memperoleh nikmat dan keberkahan dari Allah SWT,” katanya.

Di hadapan ratusan jamaah, Parosil juga menyampaikan bahwa doa dan perhatian masyarakat merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi keluarga. Ia berharap seluruh doa yang dipanjatkan dapat menjadi penerang perjalanan almarhumah di alam kubur.

Parosil secara khusus mengapresiasi para alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta seluruh jamaah yang selama ini turut mendoakan almarhumah.

“Kami meyakini sudah banyak kebaikan, keikhlasan, dan ketulusan yang diberikan oleh seluruh kerabat, sahabat, terutama para alim ulama dan tokoh masyarakat. Mudah-mudahan doa-doa yang kita lantunkan memberikan kelapangan bagi almarhumah, diterima seluruh amal ibadahnya, serta diampuni segala dosa dan kesalahannya,” tuturnya.

Ia juga mengajak jamaah tidak hanya mendoakan Hj. Saodah, tetapi turut mendoakan seluruh keluarga dan orang-orang terkasih yang telah lebih dahulu dipanggil Allah SWT.

Dalam kesempatan tersebut, keluarga turut menyerahkan daftar nama almarhum dan almarhumah dari lingkungan keluarga maupun kerabat untuk bersama-sama didoakan dalam rangkaian Yasinan dan Tahlil.

Parosil berharap kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan keagamaan tersebut dapat terus terpelihara, sekaligus menjadi pengingat bagi setiap orang tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua selama mereka masih hidup.

“Semoga kita yang hadir malam ini senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, umur yang berkah, serta menjadi anak-anak yang saleh dan salehah, yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua dan agama,” harapnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, doa bersama, serta tausiah agama yang dipimpin para tokoh agama.

Malam ke-40 kepergian Hj. Saodah menjadi momentum penuh makna bagi keluarga besar Mukhlis Basri. Bukan hanya mengenang sosok seorang ibu, tetapi juga merawat nilai-nilai kasih sayang, ketulusan, persaudaraan, dan pengabdian yang diwariskannya.

Di tengah doa yang dipanjatkan ratusan jamaah, terselip satu harapan yang sama: semoga almarhumah Hj. Saodah mendapatkan ampunan, dilapangkan alam kuburnya, diterima seluruh amal ibadahnya, dan ditempatkan di sisi Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *