.Karawang – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan pentingnya penguatan hilirisasi dan pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian dan perkebunan sebagai strategi utama meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat meninjau panen raya serta pengumuman swasembada pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu kemarin.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden tidak hanya menyaksikan langsung pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern, tetapi juga meninjau sejumlah produk hilirisasi berbasis komoditas unggulan nasional.
Salah satu yang menarik perhatian adalah gambir, tanaman endemik Indonesia yang selama ini dikenal secara terbatas memiliki potensi ekonomi global yang besar.
Presiden menilai bahwa Indonesia tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Menurutnya, komoditas seperti gambir perlu didorong untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri agar memberikan nilai tambah yang lebih besar, membuka peluang industri baru, serta meningkatkan pendapatan petani di sentra produksi.
Dorongan tersebut sekaligus menjadi sinyal agar Kementerian Pertanian dan Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan, termasuk PTPN, mengambil peran aktif dalam membangun ekosistem hilirisasi berbasis riset, teknologi, dan kemitraan dengan petani rakyat.
*Gambir: Komoditas Endemik dengan Pasar Global*
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa gambir merupakan komoditas yang selama ini kurang mendapat perhatian publik, padahal memiliki keunggulan yang sangat kuat di pasar internasional.
“Kalau orang mendengar gambir, biasanya langsung teringat dengan sirih. Padahal gambir itu produk strategis. Bahkan ada negara yang sekitar 90 persen kebutuhan gambirnya dipasok dari Indonesia,” kata Jatmiko di sela kegiatan.
Ia menjelaskan bahwa gambir mengandung antioksidan dengan kadar yang sangat tinggi melebihi green tea yang selama ini dikenal luas sebagai produk kesehatan. Kandungan tersebut membuat gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tinggi.
“Gambir bisa menjadi berbagai bahan pangan seperti teh dan juga bahan baku kosmetik, sabun, sampo, hingga kebutuhan industri. Tanin nya bahkan digunakan sebagai bahan tinta pemilu. Ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan gambir,” ujarnya.
Menurut Jatmiko, selama ini sebagian besar gambir Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah justru dinikmati oleh negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi. Karena itu, upaya hilirisasi dinilai menjadi langkah krusial agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat di dalam negeri.
*Fokus Awal: Naikkan Produktivitas Petani*
Lebih lanjut, Jatmiko menyebut bahwa langkah awal yang paling realistis adalah meningkatkan produktivitas gambir rakyat dari lahan yang sudah ada. Saat ini, produktivitas gambir di tingkat petani masih tergolong rendah, berkisar sekitar 0,5 ton per hektare.
“Dengan pendekatan riset dan metode pengolahan daun gambir yang lebih baik, produktivitas itu bisa ditingkatkan menjadi 0,75 ton bahkan hingga 1 ton per hektare. Artinya, ada potensi peningkatan 50 sampai 100 persen. Dampaknya langsung ke pendapatan petani,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan produktivitas tersebut akan diperkuat dengan rencana pembangunan fasilitas pengolahan atau pabrik gambir, yang disesuaikan dengan hasil riset dan kebutuhan pasar. Langkah ini dinilai penting agar rantai nilai gambir tidak berhenti di tingkat bahan baku.
“Kita tidak bisa hanya membangun pabrik tanpa melihat pasar. Produk apa yang paling cepat diterima, punya permintaan kuat, dan berpeluang dikuasai pasar, itu yang harus kita dorong lebih dulu,” katanya.
*Peneliti Unand: Keunggulan Alam Sumatera Sulit Ditandingi*
Dari sisi akademik, Peneliti sekaligus Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Dr.Eng Muhammad Makky, S.TP, M.Si, menegaskan bahwa gambir merupakan komoditas yang secara alami memiliki keunggulan geografis yang sangat spesifik.
“Secara geografis, Sumatera merupakan kawasan endemik tanaman gambir. Gambir tumbuh di Sumatera Barat, Sumatera Utara, sebagian Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Namun yang paling mendukung dari sisi kondisi abiotik dan ekosistemnya adalah Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” jelas Dr. Makky.
Menurutnya, keunggulan tersebut menjadikan gambir sebagai komoditas yang sulit dikembangkan di negara lain. Namun, keunggulan alam saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas dan penguatan industri hilir.
“Keunggulan komparatifnya sudah ada. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan memastikan hasil gambir diolah menjadi produk bernilai tinggi. Di sinilah riset dan teknologi memegang peranan penting,” ujarnya.
Sebagai mantan konsultan Bank Dunia, Dr. Makky menilai bahwa kolaborasi antara BUMN, perguruan tinggi, dan petani menjadi faktor kunci agar pengembangan gambir dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak luas.
*Momentum Hilirisasi Komoditas Rakyat*
Dorongan Presiden terhadap penguatan hilirisasi gambir dinilai sebagai momentum penting bagi pengembangan komoditas rakyat berbasis keunggulan lokal. Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, gambir tidak hanya berpotensi menjadi produk unggulan ekspor, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah di sentra-sentra produksi Sumatera.
Upaya peningkatan produktivitas, pembangunan industri pengolahan, serta pengembangan produk turunan gambir diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah. (*).












