JEJAK AKHIR TAHUN DI ATAS NEGERI AWAN

Keluarga Kecil Asal Lampung Takjub Menyapa Sunrise Bromo 2025

BROMO— Denting dingin dini hari tak menyurutkan langkah sebuah keluarga kecil asal Lampung menutup akhir tahun 2025 dengan cara yang tak biasa. Sandi Dwi Cahyo, sang istri Ramona Pasaur Dini, dan putri kecil mereka Khalisa Azzura Cahya, menembus gelap malam demi satu janji alam: sunrise Gunung Bromo yang menakjubkan.

Berangkat dari hotel sederhana di pinggiran Kota Malang, tepat pukul 00.00 WIB, keluarga ini dijemput travel menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Berganti jeep di basecamp, perjalanan berlanjut pukul 01.00 WIB, menyusuri aspal lurus, tanjakan berkelok, hingga off-road Savana dan Pasir Berbisik yang sunyi.

“Perjalanan gelap justru terasa seru. Ada rasa tegang, tapi juga bahagia karena kami menikmatinya bertiga. Ini pengalaman pertama Khalisa ke gunung seindah ini,” tutur Sandi Dwi Cahyo, mengenang perjalanan dua jam menuju puncak.

Pukul 03.30 WIB, jeep berhenti di titik pandang sunrise. Sambil menunggu cahaya pertama muncul, keluarga kecil ini menghangatkan diri dengan pop mie dan kopi di warung sederhana. Dinginnya udara seolah menjadi bagian dari cerita yang tak akan terlupa.

“Menunggu matahari terbit sambil memeluk anak, rasanya hangat sekali. Ini bukan sekadar liburan, tapi waktu berkualitas yang jarang kami dapatkan,” ujar Ramona Pasaur Dini, matanya masih berbinar mengenang momen itu.

Tepat pukul 05.00 WIB, langit Bromo perlahan merekah. Cuaca cerah membuka pemandangan megah: Gunung Batok yang kokoh, Semeru dengan erupsi kecilnya, hingga bentangan Widodaren yang jelas terlihat. Sunrise sempurna, kata pemandu—keberuntungan yang tak semua wisatawan dapatkan.

“Langitnya cantik sekali… Khalisa senang lihat gunung dan awan,” ucap polos Khalisa Azzura Cahya, yang sepanjang perjalanan tak lepas dari senyum kecilnya.

Usai menikmati sunrise, pukul 06.30 WIB perjalanan berlanjut ke Bukit Widodaren untuk berfoto, lalu sarapan di kawasan Gunung Batok. Pasir Berbisik dan Bukit Savana—atau Bukit Teletubbies—menjadi penutup rangkaian jelajah, sebelum rombongan kembali ke basecamp pukul 10.00 WIB.

Bagi keluarga kecil asal Lampung ini, Bromo bukan sekadar destinasi. Ia adalah pengingat akan kebesaran alam dan tanggung jawab manusia untuk menjaganya.

“Bromo membuat kami takjub. Keindahan seperti ini harus dirawat bersama, agar kelak anak-anak kita masih bisa melihatnya,” pungkas Sandi.

Akhir tahun 2025 pun ditutup dengan satu pelajaran sederhana: kebahagiaan kadang hadir di ketinggian, saat keluarga, alam, dan rasa syukur bertemu dalam satu pagi yang tak terlupakan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *